Senin, 12 September 2016

The Story of My Scout Jacket - An Update from West Sumatera


You may be already read my post titled "The Story of My Scout Jacket", and you may read it again here: http://scoutmemorabilia.blogspot.co.id/2016/05/a-story-of-my-scout-jacket.html

Now I want to share with all of you an update of that jacket. Recently, my wife and I went to West Sumatera in the Sumatra island of Indonesia. This is a family vacation, and we stayed at our friend's family house called as "Rumah Gadang". This kind of Rumah Gadang is a traditional family big house for each clan at the area. We stayed at the area known as Lintau, a village around 3 hours drive from Padang, the capital city of West Sumatera Province.

One morning, my wife took several pictures of me at the house, when I wore my Scout jacket. Here are the pictures that shows my Scout jacket had another journey.


(All photos by Afriani)

Jumat, 15 Juli 2016

Gerakan Pramuka Ajak Pathfinder Club Bergabung




Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka mengajak para anggota Pathfinder Club untuk bergabung sebagai Satuan Komunitas (Sako) Gerakan Pramuka. Pihak Kwarnas juga merasa gembira, walaupun Pathfinder belum menjadi anggota Gerakan Pramuka dan World Organization of the Scout Movement (WOSM), tetapi bendera Tunas Kelapa dan bendera WOSM ikut dikibarkan dalam acara 2nd Southern Asia-Pacific Division Pathfinder Camporee (Kampore Pathfinder Divisi Asia-Pasifik Selatan ke-2).

Hal tersebut dikatakan baik oleh Kak Editha Rahaded, Wakil Ketua Kwarnas Bidang Pembinaan Anggota Muda dan Kak H Abdul Shobur, Wakil Ketua Kwarnas Bidang Lingkungan Hidup yang hadir pada pembukaan kampore, Selasa, 12 Juli 2016. Kampore, sejenis jambore yang diikuti Pathfinder usia 10-15 tahun itu diadakan dari 12 sampai 16 Juli 2016 di bumi perkemahan yang terletak dalam komplek Universitas Advent Indonesia, Parongpong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Sekitar 4.500 peserta berpartisipasi dalam kampore tersebut. Selain dari berbagai daerah di Indonesia, dengan peserta terbanyak dari DKI Jakarta sebanyak 1.500 orang dan Papua sebanyak 800 orang, hadir pula perwakilan Pathfinder dari sejumlah negara. Di antaranya dari Papua Nugini, Thailand, Malaysia, Myanmar, Singapura, Filipina, Korea Selatan, sejumlah negara di Asia Selatan, dan bahkan dari Amerika Serikat. Pimpinan Pathfinder tingkat dunia yang hadir antara lain Jonatan Tejel, World Pathfinder Director, dan Pastor Jobbie Yabut, Direktur Kaum Muda Divisi Asia-Pasifik Selatan yang berasal dari Filipina.

Tentu saja, Yohanis Ronny Wenas sebagai Direktur Pemuda Advent Pathfinder dan Amicus GAMHK Uni Indonesia Kawasan Barat, serta R. Hutabarat yang merupakan Rektor Unai, beserta jajarannya hadir pula pada Kampore tersebut.



Pathfinder Club adalah kegiatan pendidikan bagi kaum muda di lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), maupun sekolah-sekolah yang menjadi binaan GMAHK. Di tingkat dunia, Pathfinder mempunyai organisasi yang membawahi divisi-divisi, termasuk Divisi Asia-Pasifik Selatan, di mana Pathdfinder Indonesia menjadi anggotanya.
Sama seperti kegiatan Gerakan Pramuka dan kepanduan umumnya, Pathfinder juga mendidik kaum muda dalam pembentukan karakter dan budi pekerti yang baik. Kegiatannya pun banyak dilakukan di alam terbuka, seperti dalam bentuk perkemahan, penjelajahan, dan banyak lagi. Tentu saja, karena Pathfinder merupakan kegiatan kaum muda dalam lingkungan GMAHK, maka pendidikan keagamaan juga menjadi penting. Dan sama seperti Gerakan Pramuka maupun kepanduan umumnya, dalam janji Pathfinder juga ditekankan pentingnya menjalankan kewajiban terhadap TUHAN.

Seusai upacara pembukaan yang dihadiri wakil dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, serta sejumlah tokoh pemerintahan baik sipil maupun militer, acara dilanjutkan dengan seminar singkat. Kwarnas Gerakan Pramuka mendapat kehormatan untuk memberikan seminar pada awal Kampore yang membahas tentang "Wawasan Kebangsaan".
Seminar dimulai oleh Kak Berthold Sinaulan yang memberikan pemaparan tentang Scouting & Religion (Kepanduan & Agama), yang antara lain menjelaskan mengenai kode kehormatan kepanduan di mana pun yang menekankan pentingnya bertakwa dan menjalan kewajiban kepada Tuhan, serta bagaimana komunitas-komunitas keagamaan di dalam kepanduan juga menjadi bagian dari WOSM. Di antaranya komunitas para pandu Islam (International Union of Muslim Scouts/IUMS), Katholik (International Catholic Conference of Scouting/ICCS), Buddha (World Buddhist Scouts Brotherhood/WBSB), Kristen Protestan (Council of Protestants in Guding and Scouting/CPGC), dan lainnya. Pathfinder memang belum menjadi bagian dari WOSM, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk masuk dan bergabung dalam WOSM.

Dilanjutkan oleh Kak Supriyadi yang memberikan beberapa contoh permainan Pramuka, yang sama seperti Pathfinder juga memberikan pendidikan melalui permainan-permainan yang menarik, kemudian puncaknya adalah penjelasan dari Kak Sobur dan Kak Editha. Kedua Wakil Ketua Kwarnas itu menjelaskan mengenai UU No.12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan kemungkinan bergabungnya Pathfinder dalam Satuan Komunitas (Sako).
Disambut tepuk tangan meriah dari 4.500 peserta, Kak Editha mengajak para anggota Pathfinder untuk menjadi bagian dari Gerakan Pramuka. Bahkan tidak tertutup kemungkinan ikut hadir dalam Jambore Nasional X-2016 yang akan diadakan di Bumi Perkemahan Pramuka Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur, 14-21 Agustus 2016.

Dalam Kampore yang menggunakan tema Valiant (Gagah Berani) itu, Kak Supriyadi juga membantu memberikan permainan pioneering kepada para peserta. Termasuk pendirian menara pandang yang terbuat dari rangkaian bambu yang hanya diikat dengan tali. Di samping itu, saat pengibaran bendera Merah Putih pada upacara pembukaan, tiang bendera yang juga dibuat dari bambu berukuran tinggi sekali menarik perhatian para peserta dari luar negeri.

(Foto: Isnal Waladi, Indonesia Scout Journalist)

Sabtu, 11 Juni 2016

The “Big Cats” Flag from Korea


To commemorated the 25th Asia-Pacific Regional Scout Conference (APRSC) which been held at Gwangju, South Korea, from 3rd to 8th November 2015, I made some memorabilia items. This “Big Cats” flag is one of the memorabilia items I made. The flag depicted with the design of tiger, lion, and puma, which I cut off from the patrol flag and put it together in one flag. There is also words “APRSC 2015” on top and “Korea” on the bottom.

To make it personal, I also put a special limited edition badge on right top of the flag. This flag size is approximately 34 x 48 centimeters. Then, I brought the flag and other memorabilia items to Korea. I arrived in that beautiful country on 31st October 2015, since I must participate in some pre-conference meeting.

While the APRSC participants have an educational tour, I brought the flag inside my backpack. Then the time has come. It was a group photo session with all the participants. I take off the flag from my backpack, and raised it with my hands.

Back home in Jakarta, Indonesia, I have the opportunity to modify the flag. Here is the flag, ready to frame and become a historical APRSC memorabilia from Korea.

(Published also in https://www.scout.org/node/192566)

The Scout Pickers


For those who like to see the History channel on TV, maybe you are aware of “The American Pickers” and “The Australian Pickers” TV-show. Two friends with their van, goes along the country to looking for things that can be restore or become a memorabilia and collectible pieces.

Who knows, I just accidentally became a Scout Picker. It happened on May 30th and 31st, 2016 , when I was told there was debris of Scouts Warehouse at Scout Campsite in Cibubur , East Jakarta, Indonesia. In the ruins of the warehouse, there are a number of Scout memorabilia that have been untreated and neglected, scattered around the floor or still in the old and broken boxes.

With Andi Widjanarko, a friend from the Indonesia Scout Journalist community, we saved a number of objects that can still be saved. Without meaning to, I found myself become a Scout Picker, and with my friend Andi, we become “The Scout Pickers”.

Photo by: Mutiara Adriane, ISJ #2828

(Published also inhttps://www.scout.org/node/189976) 

Saving the WOSM Flag


On the last days of May 2016, Andi Widjanarko, a friend of Indonesia Scout Journalist (ISJ) community tells me that when he visited Cibubur Scout Camp at East Jakarta, Indonesia, he saw the ruins of the Boy Camp Warehouse (Gudang Kempa). The campsite divided into two section, for boys and for girls, and each camp has own warehouse. But since the warehouse is no longer use, it seems that the ruins were likely to be razed to the ground, so that the location should become more orderly.

When approaching the ruins, at first glance Andi saw a number of scouting memorabilia scattered around it. He then contacted Fachry Makassau, Deputy Head National Training Centre Gerakan Pramuka, and was advised to try to find if there are any memorabilia that can be saved.
Andi contacted me, and we agreed to save the memorabilia that may still be saved. At least we can clean and store it, then later can be used as artifacts or memorabilia for the future Scouting Museum, when the museum was later established.

Among a number of memorabilia that we were saved, perhaps the interesting one is a large-sized WOSM flag. When finished taking some memorabilia that can be saved, we were going to go up from the location. Suddenly my eyes look at the purple cloth behind a broken box that has been neglected.

I tell Andi and Andi then retrieve it. Apparently it is a large-sized WOSM flag. So today, May 31, 2016, we saved the WOSM flag. When viewed from a number of other memorabilia we've saved in the same location, it is estimated that WOSM flag was from the early 1980s. It is a possibility that flag being hoisted on the main pitch Cibubur Scout Camp, during the National Jamboree and Asia-Pacific Jamboree 1981.
We also saved a large-sized WAGGS (now the name is WAGGGS with the three "G's) flag, which we believed together with the WOSM flag hoisted at the Cibubur Scout Camp too. Other memorabilia we saved were old Indonesia scout badges from 1980s, and some wood bow for archery which been used at the 1981 Asia-Pacific Jamboree activity.
Photo by: Mutiara Adriane, ISJ #2828

(Published also on https://www.scout.org/node/189636)

A Short Story of the 2007 Purple Neckerchief


This is a short story of the purple neckerchief made in the year 2007. To welcoming the 100th anniversary of the World Scouting movement, I made two purple neckerchiefs with official logo of the 100th anniversary of the World Scouting movement and the additional words "Wartawan Pramuka" above the logo and "Scout Journalist" below the logo. “Wartawan Pramuka” is the Bahasa Indonesia (Indonesian language) translation of “Scout Journalist”. I made also an additional inscription "Scouting Forever" placed outside the logo. All of the logo and words/inscription is made by machine embroidery.

I made it very limited, only two neckerchiefs. But, not until the Singapore Scout Fiesta Festival was held by the Singapore Scout Collectors Club in 2015, when I gave one of the neckerchief to somebody. In Singapore, I met with Trevor Johnson, a reputable Scouting memorabilia collector from the United Kingdom. I presented Trevor Johnson with one of the neckerchief. Besides as a gift to a fellow collector friend, I also gave him the neckerchief so he could take home to the United Kingdom.

As the neckerchief was created to celebrating the 100th anniversary of the World Scouting movement that was “born” by Lord Baden-Powell in the United Kingdom, so at least one of the neckerchief now return home to the United Kingdom.

(published in https://www.scout.org/node/182316)

Kamis, 05 Mei 2016

Seragam atau Beragam



Bapak Arief Rachman dengan seragam Pramuka yang dikenakannya. (Foto: diambil dari Kantor Berita Politik rmol.co)

Pagi hari Rabu, 4 Mei 2016, saya mendapat pesan layan singkat (SMS) dari seorang sahabat yang isinya undangan untuk menghadiri uji publik terhadap laporan periodik Pemerintah RI terkait Konvensi Unesco 2005 tentang proteksi dan promosi dari keberagaman ekspresi budaya. Acara itu diselenggarakan oleh UNESCO dan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Hotel Atlet Century, Jakarta.
Dia mengaku terlambat memberitahu, namun berharap saya dapat hadir mewakili Pengurus Pusat Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), di mana saat ini saya membaktikan diri sebagai Ketua Harian-nya. Saya diundang karena Ketua Umum IAAI, Bapak Junus Satrio Atmodjo, sedang tidak berada di Jakarta. Dia sedang berpergian ke Jawa Tengah.
Saya pun akhirnya hadir. Unrung tidak terlambat. Namun walau pun kehadiran saya sebagai seorang yang mewakili organisasi profesi arkeologi, karena sampai sekarang saya juga seorang Pramuka yang aktif sejak menjadi Calon Pramuka Siaga pada 1968, maka begitu tiba di ruang pertemuan, yang pertama menarik perhatian saya adalah seorang bapak yang mengenakan seragam Pramuka nyaris lengkap. Saya sebut nyaris lengkap, karena baju maupun celana yang dikenakannya memang bagian dari seragam Pramuka lengkap dengan tanda-tandanya, kecuali bapak itu tak memakai setangan leher atau lazim juga disebut kacu atau hasduk.
Ternyata beliau adalah Bapak Prof. Arief Rachman, tokoh pendidik, guru Bahasa Inggris, dan lekat namanya dengan lembaga pendidikan sekolah Laboratorium School (Lab School) di Jakarta. Pak Arief Rachman hadir dan ikut memberi sambutan di acara pembukaan, dalam kapasitasnya sebagai Executive Chairman of Indonesian National Commission for UNESCO (Ketua Eksekutif Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO).
Saat menyampaikan sambutannya, Pak Arief Rachman menyinggung juga tentang baju yang dikenakannya. Dia berkata, hari ini saya menggunakan seragam Pramuka, karena setiap Rabu adalah hari latihan Pramuka untuk gugusdepan yang ada di sekolah-sekolah di Jakarta. Ini bukan pertama kali Pak Arief Rachman tampil pada acara di luar acara kepramukaan dengan mengenakan seragam Pramuka, walaupun tanpa setangan leher. Bila ada acara yang harus dihadirinya pada hari Rabu, maka seperti tenaga pendidik dan siswa di sekolah-sekolah di Jakarta, Pak Arief Rachman mengenakan seragam Pramuka.
Hal itu juga dijelaskannya kepada Dutabesar Swedia yang juga hadir, Yang Mulia Ibu Johanna Brismar Skoog, “Kalau ibu lihat di mana-mana di Jakarta, pada hari Rabu ini semua pelajar menggunakan seragam Pramuka yang sama,” tuturnya.
Sebelumnya, Pak Arief Rachman telah berbicara tentang Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi satu, dan juga mengenai cultural diversity atau keberagaman budaya yang menjadi topik pertemuan itu. Dia kemudian menyinggung sedikit tentang penyatuan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia menjadi satu dan diberi nama Gerakan Pramuka pada awal 1960-an, tepatnya pada 1961. Tadinya, kata Pak Arief Rachman, tiap-tiap organisasi kepanduan mempunyai seragam sendiri yang berbeda-beda warnanya antara satu organisasi dengan yang lain. Sekarang semua menjadi satu, cokelat muda dan cokelat tua.
“Apakah ini kekuatan atau kelemahan? Kalau menurut saya ini kelemahan. Kita harus menghargai keberagaman,” ujarnya lagi.
Tentu saja Pak Arief Rachman tidak bermaksud agar para Pramuka terpecah-pecah, tetapi dengan menghargai keberagaman, kita bisa tetap menjadi satu. Kembali lagi ke Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu tujuan. Mungkin maksudnya, walaupun organisasi pandu berbeda-beda tetapi tujuannya sama, tujuannya satu yaitu tujuan pendidikan kepanduan.
Saya sendiri berpendapat, karena sudah terlanjur menggunakan seragam yang sama, maka cukup sulit dan memakan biaya besar sekali kalau misalnya tiap kelompok  - dalam hal ini gugusdepan atau kwartir di tingkat cabang (kotamadya/kabupaten) atau daerah (provinsi) – diizinkan menggunakan seragam-seragam yang berbeda. Sekadar untuk dapat menunjukkan ciri khas masing-masing kota, kabupaten, atau provinsi.
Cara termudah mungkin bisa dengan membebaskan dan membiarkan kreasi dari tiap kwartir cabang membuat setangan leher dengan warna dan desain gambar berbeda. Ini juga sesuai dengan topik pertemuan, yaitu kebebasan berekspresi dan berkreasi.
Persoalannya pasti banyak yang menentang, apalagi kalau dikait-kaitkan dengan warna merah dan putih pada setangan leher Pramuka saat ini. Bakal ada saja yang berkomentar, “Tidak nasionalis, mengganti merah putih dengan lainnya”. Ada lagi yang mungkin berkata pedas, “Kalau diganti berarti tidak menghormati bendera kita”.
Padahal setangan leher jelas bukan bendera. Walaupun ada warna merah dan putih, bentuknya berbeda. Bendera berbentuk empat persegi panjang, sedangkan setangan leher berbentuk segitiga. Penempatan warna merah dan warna putih juga berbeda antara bendera dan setangan leher. Jelas sekali setangan leher bukanlah bendera Merah Putih.
Walaupun demikian karena sudah ada kesepakatan dan juga telah dituangkan dalam peraturan serta petunjuk penyelenggaraan tentang setangan leher anggota Gerakan Pramuka, maka untuk kegiatan nasional dan daerah, tetap saja menggunakan setangan leher yang sudah ada sekarang. Termasuk untuk kegiatan internasional, para anggota Gerakan Pramuka yang menjadi bagian kontingen atau delegasi resmi, harus menggunakan setangan leher yang berlaku saat ini.
Sebaliknya, untuk tingkat gugus depan atau kwartir cabang, silakan saja bebas berekspresi menampilkan ide seni desain masing-masing. Ini kemungkinan besar akan membuat generasi muda anggota Gerakan Pramuka menjadi lebih kreatif dan lebih bangga dengan setangan leher khas kelompok mereka. 
Selain setangan leher, penggunaan pakaian lapangan juga dapat dimanfaatkan oleh gugusdepan atau kwartir untuk menampilkan kreasi masing-masing. Bisa juga ditambah dengan ciri khas daerah pada desainnya. Pakaian lapangan memang secara umum lebih dibebaskan bentuk, desain, dan penggunaannya, dibandingkan dengan seragam Pramuka yang harus taat aturan.
Jadi kalau pun pakaian lapangan atau mungkin setangan leher berbeda, seperti dikatakan Pak Arief Rachman, dengan keberagaman pun kita tetap bisa bersatu. Sama-sama sejalan dengan tujuan gerakan pendidikan kepanduan umumnya dan Gerakan Pramuka khususnya, yaitu membentuk membentuk setiap Pramuka agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, memiliki akhlak yang mulia, mempunyai jiwa patriotik, taat terhadap hukum, dan disiplin.
Melalui pendidikan kepramukaan itu, diharapkan dapat lahir juga pribadi yang menjunjung tinggi nilai keluhuran bangsa Indonesia, serta memiliki dan menguasai kecakapan hidup. Sehingga mereka dapat menjadi kader bangsa yang mampu menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus mengamalkan Pancasila, dan melestarikan lingkungan hidup.